Saturday, February 27, 2016

Apa itu Value Chain?

Tulisan ini membahas secara ringkas konsep yang paling mendasar mengenai value, value chain serta bagaimana menciptakan value dalam suatu institusi. 

What is Value?

Value adalah suatu konsep yang telah dikenal semenjak munculnya peradaban manusia, dan memiliki kaitan erat dengan kebutuhan manusia yang senantiasa berkembang. Karena selalu berkembang inilah pada satu titik, kebutuhan manusia tidak lagi dapat dipenuhi oleh diri sendiri. Kondisi ini memicu munculnya praktik pertukaran untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi sendiri namun dapat disediakan oleh pihak lain. Saat terdapat pertukaran produk/layanan inilah muncul konsep value.

Konsep  ini sejalan dengan pengertian dalam  ilmu ekonomi klasik mengenai value. Dalam ilmu ekonomi klasik, value didefinisikan sebagai  nilai tukar. Adam Smith dalam wealth of nation  (1901) menjelaskan bahwa value merupakan sejumlah nilai yang dikeluarkan seseorang untuk menukar seluruh upaya yang dilakukan dalam menciptakan barang atau jasa. Dalam konsep ini value  didefinisikan sebagai sesuatu yang relatif mudah diukur dan bersifat objektif. Berlawanan dengan itu, terdapat beberapa ahli ekonomi seperti David Ricardo yang mendefinisikan value nilai tukar yang sepadan atas manfaat yang dirasakan konsumen. Ricardo memandang value sebagai suatu konsep yang subjektif tergantung dari sudut pandang konsumen dan tidak dapat dipukul rata (Takenaga, 2009). Dengan kata lain, seseorang akan menilai barang atau jasa tergantung tingkat kegunaan yang dirasakan yang tidak melulu hanya berfokus pada fungsi.

Konsep value yang bersifat subjektif ini juga merupakan konsep yang umum diterima dalam dunia pemasaran. Dalam konteks manajemen pemasaran, value didefinisikan sebagai selisih antara keseluruhan manfaat yang diterima dibandingkan dengan total biaya yang dikeluarkan (Kotler & Keller, 2006). Tidak terbatas pada fungsi, terdapat beberapa benefit yang diidentifikasikan oleh Kotler sebagai benefit yang diperhitungkan oleh konsumen baik secara sadar maupun tidak sadar. Benefit tersebut antara adalah:

  1.  Product Benefit yang berkaitan dengan kemampuan produk/jasa dalam  memberikan fungsinya
  2. Service Benefit berkaitan dengan tingkat pelayanan di luar fungsi utama
  3. Personal Benefit berkaitan dengan benefit yang dirasakan secara subjektif oleh personal didasarkan atas nilai-nilai dan persepsi pribadi konsumen
  4. Image Benefit yang berkaitan dengan citra produk yang dikonsumsi dan dampak citra diri
Keempat benefit yang diidentifikasi Kotler ini diakumulasikan menjadi total benefit yang akan menjadi pembanding dengan keseluruhan biaya yang dikeluarkan. Kotler & Keller (2006) memaparkan terdapat empat cost atau pengorbanan yang menjadi pengurang atas nilai suatu barang atau jasa yaitu:


  1. Monetary Cost  yang berkaitan dengan  nilai jual barang/jasa yang didapatkan dalam bentuk uang yang dikeluarkan
  2. Time Cost yang berkaitan dengan pengorbanan  waktu yang dihabiskan 
  3. Energy Cost yang berkaitan dengan jumlah energi yang harus dikeluarkan seseorang
  4. Psychological Cost yang  berkaitan dengan pengorbanan/beban psikologis yang harus dikeluarkan oleh seseorang dalam mendapatkan atau  mengkonsumsi produk .

Baik manfaat maupun biaya yang diberikan pada dasarnya dapat didekomposisi menjadi aspek-aspek yang lebih rinci untuk indikator yang lebih terukur. Secara fungsi, misalnya fungsi suatu pulpen tidak hanya diukur  dari bisa tidaknya pulpen tersebut mengeluarkan tinta tapi juga dapat diukur dengan bagaimana ketebalan tinta, kontinuitas tulisan dari pulpen tersebut.

Berdasarkan paparan singkat dan beberapa definisi yang dibahas dalam tulisan ini, value dapat didefinisikan sebagai nilai suatu produk yang dipersepsikan oleh konsumen atas dasar seluruh manfaat yang diterima olehnya yang dibandingkan dengan seluruh biaya dan pengorbanan yang diberikan.  Dapat pula dikatakan bahwa value adalah besarnya biaya dan pengorbanan yang mau dikeluarkan oleh konsumen untuk mendapatkan keseluruhan benefit yang dipersepsikan diterima oleh konsumen. Dengan konsep tersebut semakin tinggi benefit yang didapatkan oleh konsumen (tidak hanya dari sisi fungsi) maka semakin tinggi value.

Value Chain

Setelah memahami secara singkat konsep dari value,  kita dapat melangkah membahas value chain yang merupakan suatu konsep yang diperkenalkan Porter tahun 1985. Dalam paparannya Porter menjelaskan bahwa value chain adalah serangkaian aktivitas yang dapat memberikan nilai tambah pada produk suatu perusahaan. Nilai tambah total yang dari serangkaian aktivitas penambahan nilai tersebut akan menentukan posisi perusahaan tersebut dibandingkan dengan perusahaan lain, atau dengan kata lain competitive advantage dari perusahaan tersebut. Porter (1985) memaparkan bahwa "Competitive advantage tidak dapat diketahui dari perusahaan secara keseluruhan, namun dibentuk dari aktivitas-aktivitas mulai dari perancangan, produksi, pemasaran, pengiriman produk  serta aktivitas-aktivitas pendukung lainnya Seluruh aktivitas ini akan menentukan posisi cost perusahaan relatif terhadap perusahaan lain dan bisa menjadi dasar diferensiasi”
Sumber: diolah dari Porter (1985)
Gambar 1 Framework Value Chain Porter

Dalam konsep value chain yang dikembangkan, Porter membagi aktivitas-aktivitas ke dalam dua bagian  besar yaitu aktivitas utama dan aktivitas pendukung (lihat gambar 1). Aktivitas utama adalah aktivitas yang secara langsung dapat memberikan nilai tambah pada produk yang terdiri dari (1)inbound logistics yang berkaitan dengan penanganan barang masuk dan hubungan dengan supplier, (2)operations yaitu seluruh aktivitas yang dibutuhkan untuk mengubah input menjadi output, (3)outbound logistics berkaitan dengan penanganan  produk jadi, (4)marketing & sales yang berkaitan dengan proses komunikasi dan penyampaian produk ke konsumen, dan (5) customer service untuk menjaga produk dan layanan dapat digunakan konsumen dengan baik.  Pada aktivitas utama, proses yang dilakukan dalam produk langsung menambah nilai dari produk tersebut. Berbeda dengan aktivitas pendukung yang memberikan dampak pertambahan nilai secara tidak langsung. Aktivitas-aktivitas seperti procurement, human resource management, research & development, dan infrastruktur perusahaan tidak mengubah nilai produk secara langsung saat dilakukan, namun dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Bagaimana Menciptakan Value?

Dalam menciptakan value perlu diperhatikan seluruh  aktivitas yang membangun value dalam rantai nilai perusahaan. Proses penciptaan dimulai dari perancangan produk yang perlu dilakukan dengan mengkaji kebutuhan, keinginan, aspirasi dan karakteristik konsumen yang menjadi target market. Dengan informasi yang menyeluruh, perusahaan dapat mengindentifikasi benefit-benefit apa saja yang penting di mata target market, willingness to pay konsumen  serta dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi persepsi konsumen atas nilai suatu produk. Dengan memahami konsumen secara utuh, perusahaan dapat merancang dan  menciptakan value  yang sesuai dan paling dibutuhkan konsumen. Pada kondisi ini, seluruh aktivitas  penciptaan dan penambahan nilai dari hulu sampai hilir perlu konsisten disesuaikan dengan proposed value yang telah dirancang. Operasi produksi, pengembangan brand image dan informasi lain pemilihan metoda dan lokasi distribusi,  disesuaikan dengan  proposisi  value dengan prinsip selalu mencari peluang untuk meningkatkan value dalam setiap sub aktivitas (Porter, 1985). Demikian pula pada aktivitas pendukung, seluruh aktivitas dan sub aktivitasnya 

Pendekatan lain dalam menciptakan value yang menjadi pendekatan mutakhir dan sering digunakan dalam dunia bisnis akhir-akhir ini adalah dengan menciptakan value bersama stakeholder yang terlibat (Normann & Ramirez, 2000) Hal ini relevan mengingat tingkat persaingan saat ini yang semakin tinggi  berakibat pada semakin besarnya tuntutan . Tuntutan konsumen yang tinggi mengakibatkan penciptaan value harus melibatkan konsumen. Pola penciptaan value yang dilakukan bersama  konsumen meningkatkan kompleksitas operasi yang perlu disiasati dengan mengintegrasikan penciptaan nilai dengan mitra strategis seperti supplier. Inilah yang sukses dilakukan oleh IKEA, dengan menciptakan ulang value bukan sekedar menambahkan value (Normann & Ramirez, 2000).

Referensi
Kotler, Philip, and Kevin Lane Keller. “Marketing Management 12th Ed”. Upper Saddle River, N.J.: Pearson Prentice Hall, ( 2006)

Porter, M. E. “The Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance”. NY: Free Press, 1985

Smith, Adam. Wealth of Nations, edited by C. J. Bullock. Vol. X. The Harvard Classics. New York:
 P.F. Collier & Son, 1909–14; Bartleby.com, 2001. www.bartleby.com/10/. [03 Februari 2016]

Takenaga, Susumu. "Theory of money of David Ricardo: quantity theory and theory of value." Lecturas de Economía 59.59 (2009): 73-126.


Normann, Richard & Ramirez, Rafael “From Value Chain to Value Constellation”. Harvard Business Review on Managing the Value Chain, Harvard Business School Press (2000): 185-219.

Wednesday, January 27, 2016

Apakah Periklanan Benar-benar Mati?

Catatan: Tulisan ini diterbitkan di website SKALA Communication tahun 2012 dengan judul "Is Advertising Really Dead?" saat saya masih bertugas sebagai Business Development Director di perusahaan tersebut. Isi dan data tidak diubah untuk mejaga konteks waktu pada saat tulisan ini dibuat.


Banyak akademisi dan pakar marketing mengatakan bahwa industry periklanan menuju kematian. Argumen yang sering menjadi dasar pendapat ini adalah tren perkembangan teknologi internet yang sangat pesat telah mengalihkan konsumen ke media digital. Pada saluran ini, kontrol terhadap iklan ada di tangan konsumen. Hal ini menyebabkan iklan diperkirakan akan menjadi sesuatu yang mubazir dan pada gilirannya tidak akan dilihat lagi oleh produsen sebagai sarana komunikasi pemasaran mereka. Namun benarkah industri periklanan ini sedang mengalami ‘sakratul maut’? 

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita tengok beberapa data terakhir yang relavan. Pertama Perhimpunan Pengusaha Periklanan Indonesia (P3I)  pada tahun 2012 merilis bahwa belanja iklan di Indonesia dari tahun 2009 hingga 2012 selalu meningkat. Peningkatan tersebut dapat dikatakan cukup signifikan mengingat gradient belanja iklan dari tahun ke tahun cukup tajam. Tahun 2012 diproyeksikan belanja Iklan akan mencapai lebih dari Rp. 90 Trilyun, rekor tertinggi hingga saat ini.


Gambar 1 Belanja Iklan Indonesia (Sumber P3I 2012, diolah)

Hal ini sejalan dengan temuan dari Zenith Optimedia yang memaparkan bahwa belanja Iklan dunia tengah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, secara persentesase pertumbuhan selalu di atas 2%, malah diperkirakan peningkatan akan melonjak dengan gradient yang lebih tajam di tahun 2013 hingga 2015.

Gambar 2 Forecast Budget Iklan Per Wilayah (Sumber ZenithOptimedia)

Mengapa justru fenomena ini muncul? Kami memiliki beberapa analisis dan hipetosis terkait paradoks ini.

Perkembangan Kelas Menengah
Kelas menengah (Menurut ADB pengeluaran personal US$ 2-20 per hari) secara ekonomi sangat mendorong perekonomian, dunia data world Bank menunjukkan geliat ekonomi Kelas Menengah sedang bagus-bagusnya. Di Asia lebih heboh lagi, peningkatan kelas menengah diperkirakan akan mencapai 13 kali lipat untuk Asia Selatan dan tiga kali lipat untuk Asia  Timur. Kelas menengah seolah menjadi kekuatan baru perekonomian negara-negara berkembang Asia timur dan asia selatan termasuk di dalamnya Negara-negara Asia Tenggara. Indonesia salah satunya. Nielsen menghitung bahwa total 44%  dari belanja Konsumsi Indonesia disumbang oleh kelas menengah. Daya beli kelas menengah yang terus meningkat berandil besar dalam mendorong perekonomian bangsa ini.

Lalu, apa hubungannya kelas menengah dengan pertumbuhan industri periklanan? Toh, Industri periklanan model bisnisnya adalah B2B bukan B2C? Sebetulnya jawabannya sederhana saja, dengan pola konsumsi  yang meningkat terdorong oleh geliat ekonomi kelas menengah, industri penyedia barang dan jasa untuk kelas menengah yang kebutuhannya semakin meningkat itu juga akan terdorong.Industri juga akan berlomba-lomba memenangkan persaingan merebut pasar yang super seksi ini. Di sinilah peran industri periklanan berada. Ketika industri penyedia barang dan jasa mencoba meningkatkan daya saing dengan komunikasi pemasarannya, iklan masih dianggap sebagai sarana yang baik karena mampu menjangkau dan menemui kelas menengah.

Hal ini berakibat pada industri periklanan, dengan pola hidup konsumtif, industri periklanan pasti akan tetap bertumbuh karena masih banyak kebutuhan dari para produsen untuk memenangkan pasar yang dalam kondisi hiperkompetitif. Betul bahwa kelas menengah juga mengalami eksposure terhadap media digital yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas-kelas ekonomi lainnya, dengan demikian industri periklanan harus cermat juga dengan kebutuhan atas pergeseran, masyarakat kelas menengah yang sangat terekspos pada dunia digital dan media sosial.

Complimenting not Replacing
Arah kebutuhan beriklan di dunia digital, mobile dan sosial ini yang kemudian dibaca para produsen sebagai kesempatan untuk membuka channel komunikasi baru. Channel ini dirasakan menjadi salah satu pelengkap dari channel-channel komunikasi konvensional yang telah digarap sebelumnya. Channel digital dianggap memiliki karakteristik yang berbeda dengan media-media konvensional.
Hal ini sejalan dengan teori marketing communication yang berlaku hingga saat ini. Kotler (2003) menyebutkan setidaknya terdapat 6 channel komunikasi masing-masing memiliki karakter yang berbeda sehingga dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang juga berbeda. Advertising misalnya, dianggap merupakan cara yng paling efektif dalam menyebarkan product awareness, meskipun sifat komunikasi yang searah namun jangkauan komunikasinya sangat luas. Iklan Televisi (TVC) misalnya mampu menjangkau jutaan orang dalam beberapa detik saja dengan biaya per konsumen yang terekspos di bawah Rp. 10. Event/Aktivasi merupakan media yang bersifat asosiatif, tidak direct namun mampu melahirkan aksi yang diharapkan seperti pembelian. Public relation media yang dianggap lebih terpercaya di mata masyarakat untuk mengatasi masalah dan krisis serta informasi umum perusahaan.

Demikian pula digital dan mobile channel. Karakter yang menonjol dari media ini adalah sifatnya yang direct masuk ke konsumen akhir, sifatnya yang lebih interaktif dan mampu menciptakan relationship antara perusahaan dan konsumen potensialnya.Sifat yang direct tergambar dari kemampuan media ini dalam memfokuskan sasaran audiences jauh lebih tajam dibandingkan media apapun. Iklan di facebook sebagai contoh, dapat ditujukan khusus bagi target audience yang memiliki karakterisitik yang telah didefinisikan sebelumnya, missal lokasi tempat tinggal, umur, gender ketertarikan. Demikian pula dengan kemajuan teknologi iklan di media mobile dapat difokuskan dengan teknologi targeted and location based advertising.  Sebagai ilustrasi Pengiklan dapat beriklan hanya kepada wanita yang berumur 35-40 tahun ke atas, dengan pengeluaran personal mencapai 5 juta rupiah sebulan, senang shopping dikirimkan saat konsumen tersebut mengunjungi mall tertentu.

Hal ini lah yang juga menjelaskan belanja iklan channel digital dan mobile tidak lantas ‘memakan’ channel lainnya namun menumbuhkan. Data dari pyramid research pada gambar 3 dapat menggambarkan kondisi nyata di lapangan yang menunjukkan bahwa digital turut serta meningkatkan industri periklanan bukan menggantikan media yang selama ini digunakan.

Gambar 3 Data Pertumbuhan Pasar Digital di Beberapa Negara (sumber Pyramid Research)

Kesimpulan

So, is it really true that advertising is dead? Jawabannya adalah tidak. Perusahaan kini dituntut untuk melihat lebih dalam dan mampu mengoptimalkan seluruh channel media yang menjadi touch point target marketnya. Perencanaan yang strategis dan komprehensif adalah kata kuncinya. Optimalisasi dapat terjadi bila perusahaan mampu menyusun satu strategi media yang utuh, terencana, di bawah payung pesan yang sama dan strategi kreatif yang menyeluruh. Aplikasi di berbagai media dengan tujuan yang berbeda akan tetap terjaga konsistensi sehingga pesan yang ingin disampaikan kepada target market dapat tersampaikan secara tepat, cepat dan mudah diterima


Seperti kata Jeff Rosenblum Advertising is not dead. It is simply reborn and it's more powerful than ever before.


Labels: , , ,

Kembali Menulis

Setelah hampir sembilan tahun vakum, saya memutuskan kembali (belajar) menulis lagi. Kali ini mudah-mudahan lebih bermakna daripada sebelumnya dan makin mendekatkan saya pada salah satu cita-cita untuk menulis setidaknya satu buku sebelum mati.


Monday, July 09, 2007

Painful note

Menjadi pengangguran membawa hikmah tersendiri buat saya. Saya jadi punya waktu lebih untuk berefleksi dan membuka catatan-catatan lama yang bisa mengingatkan saya akan beberapa hal penting dan/atau tidak penting yang pernah saya pikirkan. Ada catatan yang menarik perhatian saya. Mungkin seperti postingan lainnya dalam blog ini, catatan itu juga sudah sangat basi dan tidak memberikan nilai tambah bagi anda yang membacanya. Tapi ya sudahlah, saya hanya ingin berbagi sedikit catatan lama dan sekalian melakukan digitalisasi apa yang saya pikirkan. So here it goes

Bagaimana rasanya hidup tanpa rasa sakit? Tentunya tidak akan ada rumah sakit, tidak ada dokter, tidak ada psikolog.

Bayangkan hidup tanpa rasa sakit. Kita tidak merasakan apapun ketika kaki kita tertancap duri, kepala kita terbentur besi, tangan kita tersayat pisau.

Bayangkan hidup tanpa rasa sakit. Kita akan baik-baik saja ketika kita gagal dalam kompetisi, kehilangan cinta, dikhianati.

Bayangkan hidup tanpa rasa sakit. Semakin tua semakin banyak pecahan kaca dan duri yang masuk ke dalam tubuh kita. Semakin banyak memar di tubuh kita yang tidak tersembuhkan. Semakin banyak darah yang dikeluarkan tubuh kita tanpa kita sadari. Semakin banyak organ tubuh kita yang rusak.

Dan kita merasa baik-baik saja.

Bayangkan hidup tanpa rasa sakit. Tak akan perlu kita akan sahabat yang menghibur di saat hidup terasa berat. Akan orang tua yang memberikan kasih serta dorongan pada kita setiap saat. Akan kekasih yang setia saat kita di titik terendah hidup. Akan janji for better or worse.

Tak akan perlu kita akan cinta dan kebahagiaan dalam hidup tanpa rasa sakit.

Bayangkan hidup tanpa rasa sakit, tidak akan pernah kita mengambil pelajaran dan hikmah. Tidak akan pernah kita mengetahui mana hal yang aman dan berbahaya. Tidak akan pernah kita bertumbuh menjadi seorang yang dewasa. Tidak akan pernah kita menjadi lebih kuat dibanding sebelumnya.

Rasa sakitlah yang menyadarkan kita ada yang salah dalam tubuh kita. Yang menyadarkan kita ada yang salah dalam hidup kita. Yang mengingatkan kita akan nikmatnya hidup bahagia..

Rasa sakit membuat kita tumbuh dan mengambil pelajaran dan hikmah. Membuat kita tahu jalan mana yang harus kita pilih. Membuat kita menjadi manusia yang kuat. Membuat kita mencinta.

Rasa sakit membuat kita menjadi manusia seutuhnya.


Oya.. saya buka-buka tulisan lama setelah saya nonton grey’s anatomy season 3. Ada episode yang membahas tentang rasa sakit ini. Ceritanya ada anak yang tidak pernah merasa kesakitan seumur hidupnya karena kelainan kromosom. Ketika ketahuan, sudah banyak organ dalamnya yang rusak, dan disinilah shonda rhimes mengingatkan kita akan pentingnya rasa sakit. Saya pun jadi teringat rasanya dulu saya pernah menulis hal yang sama di catatan lama saya. Akhirnya ketemu dan saya posting jadinya. Hehehe

Labels: ,

Friday, April 20, 2007

Made in Germany

Ada sesuatu yang menarik yang saya temukan ketika membaca Chaos after Paradise, sebuah otobiografi yang ditulis oleh Pans Schomper, seorang Belanda yang lahir dan besar di Indonesia.

Schomper mengisahkan bahwa pada tahun 1930-1940an, Jepang belum sejaya sekarang dalam ekonominya. Saat itu ada strategi yang cukup unik yang dilakukan oleh pemerintahan Jepang untuk menggerakan roda perekonomian negeri matahari terbit itu. Mereka membangun sebuah kawasan industri (semacam cikarang atau cibitung di kita) dan menamai kawasan itu “Germany”. Dengan demikian ketika produk yang dibuat di kawasan itu mencantumkan label made in Germany, itu bukan bohongan. Toh, memang dibuatnya di Germany. Cuma memang, Germany yang ini adanya di Jepang bukan di Eropa.

Selain tersenyum, saya dibuat kagum ketika membaca bagian itu. Tersenyum karena melihat strategi yang digunakan oleh pemerintahan Jepang saat itu memang cukup lucu. Dengan cerdiknya (atau liciknya?) mereka memanfaatkan nama besar Jerman tanpa melanggar hukum internasional apapun. Kalaupun ada yang dilanggar, mungkin etika bisnis yang pada saat itu gelegarnya belum sedahsyat tahun 70an. Selain itu, lucu saja membayangkan ada satu negara yang pemerintahannya kepikir buat memakai strategi yang ajaib ini.

Itu pula yang membuat saya kagum, Jepang saat itu mampu memanfaatkan strategi yang begitu sedehana untuk dapat meningkatkan ekonomi negaranya. Produk Jerman saat itu memang lagi terkenal-terkenalnya di pasar internasional.

Terlepas dari cara yang sedikit culas, penunggangan nama Jerman tenyata mampu meningkatkan ekonomi bangsa itu. Buktinya, di pertengahan 1940an Jepang memiliki kekuatan militer yang cukup dahsyat. Sesuatu yang mustahil dimiliki tanpa ditopang perekonomian yang kuat.

Logika si empu yang menelurkan strategi ini mungkin sederhana. Sebagai pemain baru di percaturan ekonomi global, sangat sulit untuk bisa memperkenalkan produk yang mereka buat di pasar yang sudah dikuasai amerika dan eropa. Supaya produknya bisa sedikit dikenal, perlu langkah awal, dan strategi kota Jerman itu menjadi pilihan yang diambil. Nah, setelah itu barulah sedikit demi sedikit bisnis dilakukan dengan semangat kejujuran.

Strategi kota Jerman ini bukan satu-satunya strategi yang dilakukan oleh Jepang untuk bisa semaju sekarang dalam bidang ekonomi. Yang paling kita kenal tentu strategi menconteknya. Ya, Jepang terkenal sebagai pecontek yang sangat handal. Bisa dibilang bahwa kesuksesan produk Jepang kebanyakan diawali dengan mencontek. Strategi ini kebanyakan dilakukan oleh perusahaan Jepang pada tahun 1960-an sampai 1970, saat mereka mencoba bangkit dari keruntuhan ekonomi pasca perang dunia kedua.

Tentu saja, praktik mencontek yang dilakukan oleh Jepang bukan strategi murahan yang dapat digunakan oleh siapapun. Jepang menerapkan strategi a la mahasiswa pemalas yang bernilai bagus: copy, paste edit. Dengan prinsip itu, Jepang menghindari kondisi reinventing the wheel; daripada memulai segala sesuatunya dari scratch lebih baik memperbaiki apa yang sudah ada.

Prinsip ini tampaknya pula yang mendasari satu inovasi sosial yang sangat terkenal yaitu Kaizen (continous improvement). Salah satu karakteristik kaizen yang membedakannya dengan inovasi ala barat adalah sifatnya yang tidak drastis. Kaizen menekankan pada perbaikan yang gradual dan berkesinambungan, berbeda dengan inovasi yang bersifat monumental dan insidental.

Ada banyak sebenarnya inovasi dalam bidang manajemen dan manufaktur yang bikin Jepang sukses dan akhirnya diikuti oleh amerika dan eropan. Misal SMED dan poka-yokenya shigeo shinggo atau Just in Timenya Toyota. Kesemuanya itu memiliki ide dasar yang sederhana.

Itulah Jepang... penuh dengan ide-ide brilian yang sebenarnya sangat sederhana. Tapi, sesuatu yang sederhana itu juga tidak akan bisa sukses tanpa implementasi yang konsisten. Dan konsistensi dan determinasi merupakan kekuatan kultural Jepang yang paling kuat.

Kembali lagi pada made-in-germany nya Jepang, mungkin di luar sana ada sebuah kota bernama Indonesia ya? Dan di sanalah Nadine Chandrawinata dibesarkan.

Mungkin...

Labels: ,

Tuesday, April 10, 2007

Taman Cinta

Izinkan saya kembali bercerita tentang sesuatu yang –seperti biasa- tidak cukup penting.

Hari minggu tanggal 23 Maret kemarin, saya dan beberapa teman blogger menyempatkan diri untuk pergi ke taman cinta. Jika anda tidak familiar dengan frase itu dan mengira itu adalah sebuah taman yang biasa digunakan oleh pasangan-kekasih-yang- sedang-dimabuk-asmara untuk memadu kasih, perkiraan anda sedikit meleset. Taman cinta bukanlah nama permanen dari sebuah taman. Ia hanyalah salah satu dari serangkaian program marketing sebuah produk eskrim yang bertujuan untuk menguatkan posisi mereka di pasar anak muda. Maklumlah ketika bicara tentang cinta, anak-anak muda memang selalu menjadi sangat antusias. Karenanya cinta dan segala embel-embel yang berkaitan dengannya menjadi salah satu strategi klasik yang digunakan oleh para produsen untuk merebut hati (atau mengelabui?) konsumen remaja. Strategi yang standar namun terbukti cukup ampuh..

Anyway, saya di sini bukan untuk memberi kuliah marketing tentang S T P nya Philip Kotler. Marilah kita serahkan hal tersebut pada ahlinya. Saya hanya akan sedikit berbagi cerita dan pengalaman yang tidak biasa ini .

Semua dimulai ketika saya bersama tiga teman blogger, sebutlah Mr. X, Mr. Y dan Mr. Z* habis menghadiri syukuran rumah baru/ulang tahun/wisuda teman blogger saya yang lain, Ubrit (yang ternyata sangat TI sekali dengan efektivitas dan efisiensinya ^_^). Kami bersepakat untuk menuju kampus dalam rangka ikut briefing salah satu acara kaderisasi di kampus kami tercinta.

Tiba di depan kampus, kami melihat keramaian di taman depan kampus kami yang ternyata even marketing produk eskrim itu. Saya dan Mr. X (yang waktu itu sedang memboncengi Mr. Y) ternyata memiliki gagasan yang sama: mengujungi even yang jarang ada di dekat kampus kami ini. Maklum kampus kami ini adalah kampus yang (dulunya) gersang dari even-even semacam ini.

Tanpa basa basi Mr. Y pun menyetujui ide kami. Segera saja kami menelpon Mr. Z yang terlanjur masuk kampus duluan untuk segera datang ke depan gerbang kampus. Setelah diceritakan mengenai taman cinta itu, Mr. Z meluncur untuk segera menuju posisi kami yang sudah stand by di depan gerbang taman.

Di depan gerbang itu, kami mulai menertawakan kegilaan kami sendiri. Empat orang yang bitter, skeptis dan sedikit sinis tentang hal-hal yang cheesy (masing-masing dengan alasan yang berbeda; mungkin karena background kehidupan cinta yang tidak terlalu indah, idealisme, atau hal lainnya yang hanya masing-masing dari kami yang tahu), berkumpul dan memutuskan untuk masuk ke dunia yang bagi sebagian besar dari kami cukup asing untuk dimasuki.

Akhirnya setelah tertawa dan melontarkan komentar-komentar bodoh, kami menemukan rasionalisasi yang cukup memuaskan ego masing-masing dari kami: atas nama riset. Sebagai bloggers sekaligus filosof cinta jadi-jadian, even ini merupakan kesempatan bagi kami untuk mendapatkan data-data yang kami perlukan dalam menulis dan membentuk teori.

Berjalanlah kami ke depan pintu gerbang taman cinta, di sana sudah berdiri dengan megahnya booth produk eskrim yang menjadi penyelenggara acara ini. Setelah mengeluarkan (dengan paksa) uang sepuluh ribuan dan ribuan masing-masing dua lembar dari kantong Mr Z, kami mendapatkan tiket masuk dan empat eskrim tentunya (sampai sekarang saya belum melunasi utang 5500 perak itu). Tiket masuk itu terdiri dari tiga sub-tiket yang dapat kami manfaatkan buat mengakses beberapa stan yang tersedia di sana. Ada stan luv doctor, luv game dan luv bike. Stan lainnya seperti sumur cinta, stan foto atau makanan tidak mensyaratkan potongan tiket supaya kita bisa masuk.

Sambil menikmati eskrim yang ternyata rasanya cukup enak, kami mulai jalan menjelajahi arena yang dipenuhi abg ini. Situs pertama yang kami temukan adalah wishing well. Di sana pengunjung bisa menuliskan keinginan mereka (dalam konteks percintaan tentunya) dan berharap mungkin suatu saat doanya akan didengar. Uniknya, tulisan yang dimasukkan ke sana nantinya akan ditampilkan di satu layar yang bisa dilihat oleh siapapun. Sambil tersenyum penuh makna kami membaca dan menganalisis tulisan-tulisan yang ada di situ. Banyak tulisan yang cukup menarik untuk diperhatikan, kebanyakan bermaknakan “smoga xxxx bisa suka ama gw” atau “ please let xxxx fall for me” atau “Dinda, di manakah kau berada” Ya intinya sih kalimat-kalimat sedikit desperate dan puitis untuk bisa mendapatkan cinta.

Namun kami tergelitik oleh satu tulisan yang penulisnya kami yakini berasal dari kampus kami. Isinya “Semoga bisa dapet IP bagus dan cepet lulus”. Kalimat ini bisa ditafsirkan sebagai si penulis mendambakan cinta dari orang yang julukannya si “IP bagus dan cepet lulus” (panggilan yang cukup aneh) atau cinta sejati si penulis adalah transkrip dengan deretan huruf A di dalamnya. Kami akhirnya menarik kesimpulan bahwa yang kedua lah yang paling mendekati kenyataan. (Hebat ya kami?).

Saya dan teman-teman kembali menyusuri taman yang sehari-harinya sering dipakai mentoring dan rapat ini, setelah menikmati membaca keinginan terdalam orang-orang, . Kali ini kami mengunjungi stan luv game, tapi antriannya cukup panjang, dan kami sedang tidak dalam mood –meminjam istilah Mr.Z- untuk bermain cinta. Walhasil, kami cuma menonton pengunjung lainnya memainkan permainan cinta ini.

Puas melihat orang-orang yang sedang bermain cinta, kami melangkah kembali ke stan berikutnya. Selewat kami melintasi tempat praktek si dokter cinta yang ternyata antriannya merupakan antrian yang paling panjang dibandingkan stan lain. Ternyata banyak juga ya pengunjung yang mengalami gangguan dalam kesehatan cintanya seperti post-putus-syndrome, schizo-more-than-a-fren-ia, dan lain-lain.

Kali ini kami mampir di stan Foto (sampai sekarang kami mempertanyakan signifikansi dari stan itu). Di situ dipajang foto-foto selebritis beserta pasangannya (yang kebanyakan selebritis juga) lokal maupun interlokal, dalam berbagai pose. Lucunya, ada beberapa selebritis yang pasangannya tidak begitu terkenal (rupanya si pembuat stan terlalu malas untuk melakukan sedikit riset di google), dan di sana dituliskan nama pasangan itu seperti ini. “(Nama selebritis) dan pacar”. Misalnya Agnes Monica dan pacar atau Angelina Jolie and a Man (tulisan ini tidak sesuai dengan yang tertulis di stan, asumsikan saja Brad Pitt bukan siapa-siapa).

Kami tidak lama di stan itu mengingat ketidakpahaman kami akan signifikansi stan itu, Saya dan temans akhirnya memutuskan beristirahat sejenak dari taman cinta dan pergi ke mesjid sebelah untuk shalat.

Sekedar info, taman tempat diselenggarakannya even marketing ini tidak hanya memiliki satu pintu masuk. Ada pintu masuk lain yang langsung menyambung pada mesjid kampus kami. Nah, pada gerbang ini terdapat plang dari organizer yang bertuliskan “emergency exit”. Teman saya Mr. Y menemukan situasi itu cukup lucu dan metaforistik. Katanya, plang itu seolah-olah menyatakan “Ketika api cinta sudah membahayakan, keluarlah dari bahaya itu dengan berijab-kabul di mesjid”. Tentu saja kami nyengir begitu menyadari kebetulan yang cukup bermakna ini.

Usai shalat, kami kembali ke taman cinta, pembenarannya: kebutuhan data belum terpenuhi dari riset sebelumnya. Di taman sudah tampil kerispatih dengan lagu-lagu mellownya dan petuah-petuah bijaknya tentang cinta. Saya dan keempat teman saya memutuskan untuk nonton sebentar dan menikmati penampilan life yang jarang-jarang ini. Ternyata, cukup sulit menikmati kerispatih ditemani tiga orang anti-cheesy-stuff-er, laki-laki pula. Akhirnya setelah mendengarkan beberapa lagu andalan kerispatih, kami meneruskan perjalanan.

Masalahnya, ke mana kami sekarang? Hampir semua stan telah kami jelajahi. Hanya saja kami memang belum sedikitpun memanfaatkan tiga potongan tiket yang tergenggam di tangan kami masing-masing. Merasa mengendarai love bike secara berpasangan tidak akan terlalu menyenangkan dan dapat menimbulkan fitnah, Mr. X, Mr. Y, Mr. Z dan saya akhirnya menuju luv doctor. Ya… setidaknya kami bisa melakukan general check up.

Sampai di sana kami mengikuti antrian yang panjangnya bukan kepalang seperti ular naga. Semenit kemudian, mbak-mbak organizernya stan itu (bisakah saya memanggilnya perawat?) mendatangi kami (orang depan kami sih sebenarnya) dan mengatakan bahwa “dengan berat hati antrian harus dipotong”.

Bermain dengan imajinasi liar, kami mulai gelisah. Mungkinkah sang perawat menyadari niat kami yang tidak tulus, atau betapa helplessnya teman-teman saya**, dan memutuskan untuk memotong kami dengan kamuflase orang di depan kami supaya tidak terlalu kelihatan?

Syukurlah ternyata bukan, sang suster akhirnya menjelaskan secara ilmiah dan matematis mengenai keterbatasan waktu yang dimiliki oleh penyelenggara serta panjang antrian yang sudah melewati batas. Meskipun tanpa menjelaskan distribusi service time-nya poisson atau normal, jenis antrian yang dipakai (G, M, 3 atau apa)***, perawat itu cukup dapat memberikan penjelasan yang masuk akal dan membuat kami cukup tenang karena imajinasi kami tidak terbukti benar.

Akhirnya sorepun berakhir dan kami segera menuju kampus untuk mengikuti acara kaderisasi tadi. Entah karena euphoria, atau karena memang hati kami pada dasarnya dipenuhi oleh cinta, kami semua berperan sebagai malaikat penenang nan baik hati ketika acara berlangsung****.

Saya tutup cerita taman cinta ini dengan kutipan dialog yang saya baca di salah satu plang yang didirikan di sana.

Co: “Sayang, kita cari tempat yang agak dingin yuk?”

Ce: “Lho, kenapa? di sini kan enak tempatnya, ngga panas juga!”

Co: “Soalnya aku lagi deket kamu sih, bisa-bisa hatiku meleleh kalo ngga didinginin”

Hadezig!!!



*)

karakter tersebut disamarkan untuk melindungi reputasi teman-teman saya.


**)

bercanda


***)

itu parameter-parameter dalam teori antrian yang sempat kami pelajari


****)

sebenarnya, ini sih karena kami dari dulu juga tidak suka dengan pendekatan jahiliyah dan kami hadir untuk mencoba menatralisir keadaan yang belum sepenuhnya tercerahkan itu.

Labels:

Thursday, March 22, 2007

Earphone

peringatan: posting ini sangat tidak penting dan penuh dengan catatan-catatan bodoh, anda yang alergi terhadap kebodohan dianjurkan untuk tidak membaca posting ini. Penulis tidak bertanggung jawab atas reaksi yang mungkin muncul setelah membaca postingan ini.

Sejak dulu saya memang mendambakan untuk memiliki sebuah earphone. Memang tidak sampai tahap terobsesi, namun saya memiliki keinginan cukup kuat untuk memiliki earphone itu. Akhirnya, beberapa minggu yang lalu saya membulatkan tekad, memberanikan diri dan mengambil resiko untuk membeli sang earphone, hanya earphone; tanpa mp3 player, mp4 player apalagi ipod, merely an earphone.

Cukup aneh? memang... tapi saya memiliki dua alasan yang -menurut saya- cukup kuat untuk melakukan itu. Pertama, kalau saya memiliki earphone, saya akan memiliki kesempatan lebih untuk mendengarkan musik, menonton film atau bermain game. Tidak masuk akal? baiklah, untuk lebih jelasnya kita lihat beberapa adegan berikut:

Adegan pertama.
Saya sedang bosan, suntuk dan mengantuk, yang saya butuhkan adalah musik yang dapat membuat saya bangun dan bersemangat. Sejurus kemudian, datanglah teman saya sang pemilik iPod Nano yang ternyata sudah bosan mendengarkan musik. Lalu terjadilah dialog ini:

Saya (S) : "Teman, bolehkah aku meminjam iPod-mu yang sedang tidak kau pakai itu?"
Teman Saya (TS) : " Oh, maksudmu iPod-yang-penuh-dengan-lagu-lagu-bagus-dan -membangkitkan-semangat-namun-karena-aku bosan-tidak-aku-gunakan ini?"
S: "Benar sekali, aku sedang membutuhkan pembangkit semangat dikarenakan sedang bosan, suntuk dan mengantuk"
TS: "Sayang sekali, aku sebenarnya ingin sekali meminjamkan ini iPod pada dirimu, namun sayang sekali earphone ini barang personal teman. Jadi aku tak bisa meminjamkannya padamu, karena itu bagaikan meminjamkan kolorku padamu"
S: "Kalau begitu jangan khawatir!", sambil mengeluarkan earphone kesayangan lalu berdiri menghadap matahari dan mengangkat tinggi-tinggi earphone itu dengan penuh kebanggaan dan senyum kemenangan. " Aku punya ini!!"
TS: "Wow, kamu hebat sekali, baiklah aku pinjamkan iPod ini dengan senang hati untuk membangkitkan semangatmu"

Dan saya akhirnya berhasil membangkitkan semangat dan tidak lagi bosan, suntuk dan mengantuk.

*Akhir dari adegan (tolong jangan muntah)

Adegan kedua
Saya telah menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan pada saya untuk hari tertentu, tiba-tiba saya berkeinginan untuk menonton Heroes season 2 yang baru saya download, namun rekan-rekan kerja saya belum beres dan masih berkonsentrasi dengan keras untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Bos saya juga telah memasang alat penyadap suara di ruangan kami untuk mengawasi suara-suara yang mencurigakan yang dapat menghambat pekerjaan.

Saya mulai putus asa. Di tengah keputusasaan itu, saya merogoh saku saya dan tebak apa yang saya temukan di sana? Betul sekali! earphone baru saya. Akhirnya saya mencolok earphone itu di komputer dan mulai menikmati heroes season 2 yang ternyata banyak sekali kejutannya. Dan semua masalah terpecahkan: saya bisa menonton, rekan kerja saya tidak terganggu konsentrasinya, dan yang paling penting, si bos tidak dapat mendengarkan sedikit pun suara yang mencurigakan.

*akhir adegan 2
Terlepas fiksi atau nyata, kedua adegan di atas cukup dapat memberikan elaborasi bukan? Jadi saya rasa anda sekarang dapat memahami secara logis kalimat "dengan memiliki earphone saya telah membuka berjuta pintu peluang" [berlebihan]

Alasan Kedua adalah: dengan membeli earphone, saya akan memiliki motivasi lebih untuk membeli benda-benda yang padanya earphone saya dapat dicolokkan. Ambilah Contoh barang tersebut adalah laptop. Karena pada umumnya laptop memiliki colokan untuk earphone, saya akan memiliki motivasi untuk memiliki laptop semata agar saya bisa mencolokkan earphone saya.

Pada gilirannya, motivasi tersebut akan bertransformasi menjadi usaha keras nan giat untuk mendapatkan laptop. Dan setelah memiliki laptop untuk dicolok earphone saya itu, besar kemungkinan saya akan menemukan manfaat lain dari laptop dari sekedar colokan earphone. Dan saya akan selangkah lebih maju dan pintar.

Begitulah cerita dua alasan kuat dibalik pembelian earphone saya, karena sudah cukup puas dengan rasionalisasi yang saya buat, akhirnya saya cukup tenang untuk selalu membawa-bawa earphone itu kemana pun saya pergi dan mencoba mencolokannya setiap ada kesempatan. Meskipun demikian, saya tetap berusaha mengingat nasihat seorang teman yang baik dan kompeten untuk tidak sering-sering menggunakan earphone karena dapat merusak membran timpani.

Susah memang untuk menjalankan nasihat bijak tersebut karena saya sudah kadung jatuh cinta dengan earphone sehingga sulit melepaskannya bahkan untuk sejenak.

Namun... saya akan tetap berusaha... *kepalan tinju menantang matahari*

Labels: , ,

Tuesday, March 20, 2007

Back to the Mattresses *)

Dzig... Tiba-tiba datang setelah setengah tahun lebih vakum menulis. Bukan karena tidak ada yang terjadi selama itu. Justru hidup beberapa bulan ke belakang penuh dengan kejutan-kejutan juga penuh warna. Hasilnya... Saya mengalami overload dan tidak berani untuk menulis dalam keadaan yang penuh warna itu..

Rasionalisasi yang aneh.... sudahlah....

So here i am, masih dengan kompetensi menulis yang sangat rendah, pengetahuan yang sangat terbatas dan kesoktauan tingkat tinggi, trying to jot down every single thought crossing my mind, dan berharap tidak ada orang yang mati kebosanan membaca tulisan-tulisan ga penting saya...

Jadi Bismillah (lagi)..

*)Meminjam a quote from the Godfather Part I

Labels: